Hari Ini (2)

7 11 2014

Hari ini, aku terhenyak akan kenyataan bahwa aku belumlah siap sepenuhnya untuk tak menaruh harap padamu. Pagi tadi, aku terbangun dalam keadaan penuh harap (lagi) padamu. Ini tak lepas dari andilmu. Kau, lagi dan lagi membangkitkan harapku padamu. Lewat tingkah polah yang seolah masih senantiasa memberi perhatian berlebih untukku.

Hari ini, pertahananku kembali tergoyahkan. Tergoyahkan oleh tingkah polahmu itu. Lalu aku harus bersikap bagaimana? Jika deklarasi ketidakpastian yang sedari dulu kau terangkan padaku seakan tak berlaku dengan beriringnya waktu?

Namun, jika ku tanyakan lagi tentang adakah sedikit saja suatu kepastian untukku, maka kau tetap tak kan bisa menjawabnya sesuai inginku. Lalu aku, lagi dan lagi terhempas pada lembah kecewa yang sama. Aku kembali akan mengecap duka yang tak berbeda dengan sebelumnya.

Mentari sudah sedari tadi beranjak meninggi dari singgasana terbitnya, saat aku memutuskan untuk merenungi tentang jalinan rasaku untukmu. Akankah ku simpan dan ku jaga senantiasa rasa ini? Ataukah harus ku kikis perlahan keberadaannya dalam hatiku?

Hari ini, aku tak mampu beroleh jawab atas segala tanya tentang rasaku untukmu.

Hari ini, hanya tanya dan ragu yang bergelimang menelusup kalbu.

Jika jawab itu belum menjelma hari ini, maka harapku, esok atau lusa jawab itu akan ada.





Hari ini (1)

6 11 2014

Hari ini aku belajar bahwa merindukanmu adalah sebuah ketidakpastian. Entah sampai kapan aku akan bersabar menyimpan rindu ini untukmu.

Betapa aku sadar, sejak awalpun kau tak pernah memberikan harap pasti untukku. Lalu aku, betapa dengan bodohnya berikrar akan menunggumu. Itu bodoh bukan?

Biarlah.

Saat ini aku tetap bersetia dengan ikrar itu. Ikrar penantian yang entah sampai kapan aku genggam. Mungkin hingga nanti, suati hari dimana kau mengutarakan kembali betapa tak ada kepastian apapun yang dapat kau sisihkan untukku. Suatu hari dimana aku telah lelah menggenggam ikrar yang ku buat sendiri. Ikrar yang tak berarti apa-apa bagimu.

Hari ini, aku berharap, semoga kau selalu berada dalam kebaikan.

Hari ini, aku berdoa, semoga kau semakin menyadari betapa hidup itu tentang pilihan. Semoga kau bersegera menentukan pilihan-pilihan dalam hidupmu, dan semoga pilihan-pilihan itu adalah yang terbaik bagimu. Walaupun nanti, tak ada aku dalam pilihan-pilihanmu itu. Tak mengapa. Aku telah siap sedari dulu.

Untukmu yang aku berikrar akan menunggumu, aku tak kan lagi mengharap kepastian darimu.

Untukmu yang aku berikrar akan menunggumu, aku akan bersiap diri untuk berucap selamat tinggal sedari dini.





Manda, Ami…

2 04 2014

Setiap pertemuan bukanlah suatu kebetulan. Begitulah yang saya yakini, bahwa pertemuan-pertemuan itu sudah digariskan oleh-Nya. Dan dari setiap pertemuan itu, saya belajar banyak hal, memetik begitu banyak hikmah. Dari begitu banyak pertemuan yang saya alami, pertemuan dengan dua orang sahabat, Manda dan Ami, adalah salah satu yang darinya saya belajar begitu banyak hal, begitu banyak hikmah.

Dipertemukan dalam satu kelas yang sama, ketika kami bersama-sama menempuh pendidikan sarjana di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) – IPB. Tiga tahun berada dalam ruang kelas yang sama, berdiskusi banyak hal, mengomentari begitu banyak peristiwa, juga mentertawakan apa-apa yang patut ditertawakan.

Manda…
Saya mengenalnya lewat obrolan-obrolan seru tentang banyak hal dengan beragam tema. Saat kuliah dulu, kami berdua sering duduk bersebelahan. Dari situlah obrolan-obrolan kami mengalir. Tema obrolan yang masih begitu melekat di ingatan saya adalah tentang berhijab. Kala itu , di Departemen SKPM, teman-teman perempuan yang beragama Islam belum semuanya memakai kerudung. Saat obrolan tentang hijab ini ‘mengalir’, Manda termasuk salah seorang yang belum menggunakannya. Saya ingat betul, kala itu Manda bercerita bahwa jika ingin berkerudung, maka harus ‘total’, tidak setengah-setengah. Manda mencontohkan, jika sudah berkerudung, maka sudah seharusnya semua aurat tertutup. Berkerudung bukan hanya menutup rambut dan kepala saja. “Berkerudung, tapi lengan bajunya masih digulung-gulung. Sama saja bohong” begitu katanya. Dari obrolan bertema hijab ini, saya belajar dari Manda tentang ketotalan dalam taqwa, juga tentang menjaga keistiqomahan dalam taqwa. Terimakasih, Manda. Sampai sekarang, obrolan dengan kamu, tentang hijab, menjadi pengingat untuk selalu istiqomah, menjaga apa-apa yang sudah ada.
Lain lagi tentang diskusi di beberapa kelas praktikum. Yang paling ‘seru’ saat kita ada di kelas praktikum MK. Gender dan Pembangunan. Di kelas ini, kita seringkali tidak sependapat dengan dosen. Masih ingat kah? Kala itu praktikum pertama di kelas Gender. Kita diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan, memilih untuk setuju atau tidak dengan beberapa pernyataan. Salah satu poin dari pertanyaan dan pernyataan itu, yang sampai saat kelas Gender berakhir satu semester pun, masih diperdebatkan, adalah tentang “Apa salahnya jika perempuan memilih untuk tidak bekerja di luar rumah? Perempuan memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, mengurus anak dan suami, apa salahnya?” Tak begitu puas dengan jawaban dari seorang dosen, Manda pun bertanya lagi ke dosen yang berbeda. Saat itu, saya begitu kagum dengan ‘keukeuh’nya Manda dalam mempertahankan pendapatnya. Bahwa, jika ia sebagai perempuan memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, tidak ada salahnya, itu pilihan mulia. Dan saat ini, ia membuktikan pilihannya. Ia merealisasikan apa yang sudah dipilihnya bertahun-tahun lalu, saat ia masih ada di kelas Gender. Manda menjadi Ibu Rumah Tangga sejati, menjadi Istri dan Ibu yang super.

Ahhhh, Manda, saya iri padamu.

Ami…
Apa salahnya sih, akhwat yang kerudungnya gede ngomong lu-gue?” Obrolan tentang tema ‘lu-gue’ mengalir saat kita ada di kelas praktikum MK. Dasar-Dasar Komunikasi (Daskom), kalau tidak salah. Saya masih ingat betul, ruang kelasnya di RK AGB 202 A, dengan posisi duduk yang melingkar. Waktu itu, kita seharusnya sedang berdiskusi dalam kelompok kecil. Bukannya diskusi, kita malah mengobrol hal lain. Hehe…

Dari Ami, saya belajar tentang membaur yang tak melebur. Yang saya kagumi dari Ami adalah, ia bisa berbaur dengan teman-teman yang berbeda jauh latar belakang dan gaya hidup dengannya. Ami begitu nyaman mengobrol apa pun, bahkan obrolan tingkat dewa yang bertema keyakinan, dengan seorang teman yang katanya tidak percaya Tuhan (waktu itu). Wawasan keagamaannya luas, juga wawasan tentang drama koreanya. Hihihi…
Oh ya, saya juga belajar tentang kasih sayang yang berlimpah kepada seorang Ibu, dari Ami. Ami adalah seseorang yang begitu mencintai Ibunya. Ibu kamu patut berbangga memilikimu, Mi…

Ada satu peristiwa ‘nekat’ yang saya alami berdua dengan Ami. Di penghujung tahun 2009, Ami mengajak saya untuk ‘mendaki’ menara tertinggi di IPB, menara Masjid Alhurriyyah. Saya masih menyimpan foto-foto kami berdua di puncak menara. Dan kami pun ‘memahat’ nama kami berdua di salah satu sudut menara sebagai ‘duo akhwat nekat’ yang mendaki puncak menara masjid. Saya merindukan pagi itu. Pagi hari di penghujung tahun 2009.

Manda dan Ami…

Dua sosok yang sudah digariskan oleh-Nya sebagai sosok-sosok hebat yang turut mewarnai proses pendewasaan diri saya. Keduanya adalah teman, sahabat, saudara, yang dikirimkan oleh-Nya untuk menjadikan saya lebih bijak, lebih dewasa dalam menjalani dan memberi makna pada hidup ini. Terimakasih, Manda. Terimakasih, Ami.

“Akkkkkk… Aku kangen kalian berdua. Sepertinya ini efek dari bales-balesan twit. Hahaha. Mandaaaaa, salam sayang ya buat keponakan cantik aku, Finda. Amiiiii, salam hormat buat Mamah Ami. I miss you so, ukhtiy-ukhtiy sholiha”